Sejak awal
peradaban manusia, ketika dinding gua mulai digerus meninggalkan piktografik yang
menjadi bentuk komunikasi visual pada saat itu dan sampai hari ini ketika buku
telah memiliki bentuk digital, ide-ide atau gagasan terus terekam dan menyebar
melampaui batasan waktu dan ruang. “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara
saya akan lebih keras daripada dari atas bumi,” begitu ungkapan Tan Malaka yang
menggambarkan bagaimana ide dan gagasan dapat terus hidup melalui buku, dan
dihidupkan kembali oleh kita sebagai pembaca.
Tidak perlu
diperdebatkan bahwa membaca buku adalah kegiatan membanjiri diri dengan
pengetahuan. Bahkan membaca adalah bentuk dari kebebasan, bebas untuk meraba dan
menjelajahi sudut-sudut pikiran orang lain, bebas untuk tenggelam dalam
kedalaman makna kata, bebas untuk mengacak-acak pikiran kita sendiri. Seperti
yang diungkapkan Bung Hatta, “Aku rela dipenjara, asalkan bersama buku karena
dengan buku aku bebas.” Ketika tubuh mungkin terkurung, pikiran yang diperkaya
oleh bacaan akan terus melintasi jeruji dan tembok pembatas.
Membaca buku juga
bukan sekadar bentuk kebebasan, tetapi juga merupakan bentuk perlawanan. Saat
kita membaca, logika, nalar, serta rasionalitas kita diuji pada maksud bacaan
yang melatih kemampuan berpikir kritis kita. Timothy Snyder, profesor sejarah
terkemuka, mengungkapkan bahwa rezim-rezim penindas kerap melarang buku dan
membanjiri saluran media digital karena mereka memahami bahwa bahasa memiliki
kekuatan dan kata-kata mengandung makna. Semakin banyak yang kita ketahui, maka
semakin banyak pula yang dapat kita pertanyakan tentang taktik penindasan dan
semakin mampu kita menolak tindakan penyalahgunaan kekuasaan. Perlawanan yang
didasari prinsip baik inilah yang menjadi alat untuk mencapai kebebasan sejati,
dan langkah paling sederhana untuk melawan kekuatan yang mencoba memecah belah
pemikiran dan membatasi kebebasan kita adalah dengan membaca buku.
Para pendiri
bangsa ini pun dikenal sebagai tokoh-tokoh dengan minat dan kecintaan tinggi
terhadap buku. Tidak mengherankan jika mereka mewariskan bangsa yang besar
kepada generasi penerusnya. Namun sangat disayangkan fakta bahwa semangat
membaca yang mereka wariskan tidak sampai pada generasi muda saat inii atau
mungkin bukan tidak sampai, hanya saja tidak semua generasi muda mendapat
warisan semangat tersebut.
Inisiatif
seperti “lapak buku” menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan minat baca di
kalangan generasi muda. Dengan menumbuhkan kembali budaya literasi, kita tidak
hanya menjaga warisan para pendiri bangsa, tetapi juga melengkapi diri dengan
senjata paling ampuh untuk memperjuangkan kebebasan dan membangun masa depan
yang lebih baik, yaitu pengetahuan yang mendalam dan pemikiran yang kritis.
-Najwa Shihab-
