Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik
Fakultas Ilmu Sosial, Ilmu Politik, dan Humaniora (HUMANISTIK FISIPHUM UMSI)
telah menyelenggarakan kegiatan Sekolah Media pada tanggal 27–30 Desember 2025
sebagai upaya meningkatkan kapasitas kader dalam bidang kepenulisan,
jurnalistik, dan kepekaan terhadap isu-isu sosial. Kegiatan ini tidak
hanya berfokus pada pemberian materi, tetapi juga menekankan praktik langsung
melalui Rencana Tindak Lanjut (RTL) berupa penulisan karya jurnalistik oleh
para peserta. Sebagai bentuk implementasi dari RTL tersebut, peserta Sekolah
Media dibagi ke dalam beberapa tim untuk menyusun tulisan ini, yakni Tim
Investigasi: Abd. Wahidil Kahar, Muh. Teguh Adriansyah, dan Kiki; Tim Narasi:
Satriani dan Mauliana Ardi; serta Tim Publikasi: Nurul Hikma dan Sumarni.
Tulisan ini mengangkat isu kebencanaan nasional yang terjadi di penghujung
tahun 2025, yaitu bencana banjir besar di Sumatera, sebagai bahan refleksi
sekaligus latihan berpikir kritis terhadap persoalan sosial dan kebijakan.
Berikut
adalah tulisan peserta Sekolah Media:
“Banjir
Sumatera 2025: Bencana Alam atau Akumulasi Kelalaian Manusia?”
Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda
Pulau Sumatera sejak akhir November 2025 menjadi salah satu tragedi kemanusiaan
terbesar dalam satu dekade terakhir di Indonesia. Peristiwa ini tidak hadir
secara tiba-tiba. Hujan deras yang turun hampir tanpa jeda sejak 26 November
2025 menjadi pemicu awal, namun skala kehancuran menunjukkan bahwa ada
persoalan struktural yang jauh lebih dalam.
Wilayah yang terdampak paling parah meliputi Aceh,
Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan puluhan kabupaten dan kota mengalami
banjir besar dan longsor. Sungai-sungai utama meluap, membawa lumpur, batu, dan
batang kayu ke kawasan permukiman. Desa-desa di bantaran sungai menjadi titik
paling rentan.
Hingga pertengahan–akhir Desember 2025, data resmi
mencatat lebih dari 1.030 hingga 1.053 orang meninggal dunia, sementara sekitar
205 orang masih dinyatakan hilang. Angka ini terus bergerak seiring proses
pencarian dan evakuasi yang berlangsung di tengah medan sulit. Selain korban
jiwa, bencana ini juga memaksa ratusan ribu warga mengungsi, meninggalkan rumah
yang rusak, terendam, atau hanyut terbawa arus.
Investigasi menunjukkan bahwa hujan ekstrem dan pengaruh
siklon tropis memang menjadi faktor meteorologis utama. Curah hujan tinggi
selama beberapa hari berturut-turut membuat tanah jenuh air, sungai meluap, dan
lereng menjadi tidak stabil.
Pemerintah pusat merespons dengan mengerahkan BNPB, TNI,
Polri, serta relawan untuk operasi pencarian dan penanganan darurat. Kepala
BNPB melaporkan kebutuhan tambahan personel dan alat berat untuk membersihkan
lumpur serta membuka akses ke daerah terisolasi. Sementara itu, Presiden RI
Prabowo Subianto menyatakan bahwa proses pemulihan pascabencana membutuhkan
waktu dan tidak dapat diselesaikan dalam hitungan hari. Ia mengatakan, “I don’t have the staff
of Moses. We cannot finish this in 3-5 days. Perhaps in 2-3 months, activities
will return to normal,” (yang artinya pemerintah minta waktu untuk pemulihan). Pernyataan
ini disampaikan dalam rapat kabinet pada 15 Desember 2025 dan dilaporkan oleh
Reuters.
Dari sisi ekonomi, kerugian akibat bencana ini sangat
besar. Estimasi awal menyebutkan bahwa kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi
mencapai sekitar US$3,11 miliar. Angka tersebut mencerminkan tidak hanya biaya
pembangunan kembali infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan sosial-ekonomi
masyarakat yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan anggota keluarga.
Banjir besar Sumatera 2025 akhirnya menjadi cermin keras
bagi Indonesia. Ia memperlihatkan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam,
melainkan hasil dari akumulasi kebijakan, kelalaian, dan ketidakseimbangan
hubungan manusia dengan lingkungannya. Tanpa pembenahan serius terhadap tata
ruang, pengelolaan hutan, dan pengawasan izin usaha, tragedi serupa bukan tidak
mungkin akan kembali terulang dengan korban yang terus bertambah.
