Tolak Keras Pelecehan Seksual di Kampus: Suara HUMANISTIK FISIPHUM

Sampai kapan Universitas Muhammadiyah Sinjai (UMSI) ingin mencoreng namanya dengan dugaan-dugaan kasus kekerasan seksual yang terus dilanggengkan? Kasus demi kasus pelecehan seksual terus berulang di kampus yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi para mahasiswanya. Namun kini, kampus ikut menjadi ruang tanpa jaminan keamanan dan keselamatan.

HIMPUNAN ADMINISTRASI PUBLIK (HUMANISTIK) FISIPHUM bersama Ketua Umum Muhammad Adam Syah menyatakan sikap tegas menolak keras segala bentuk pelecehan seksual di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Kami menegaskan bahwa pelecehan seksual adalah bentuk pelanggaran serius terhadap martabat manusia, nilai kemanusiaan, serta prinsip keadilan. Tidak ada ruang bagi pelaku pelecehan seksual di Universitas Muhammadiyah Sinjai maupun institusi pendidikan lainnya.

Hari ini, Universitas Muhammadiyah Sinjai kembali terciderai oleh oknum tenaga pendidik dengan kasus pelecehan seksualnya. Ini bukan sekedar insiden administratif yang bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan birokratis saja. Ini menjadi ujian terhadap integritas institusi dan komitmen kepemimpinan kampus dalam menegakkan prinsip keamanan dan nilai-nilai kemanusiaan.

Jika Pimpinan UMSI paham bahwa Universitas merupakan institusi yang memiliki klaim amat sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan pelecehan seksual adalah pelanggaran fundamental terhadap harkat kemanusiaan, maka respons Pimpinan Universitas Muhammadiyah Sinjai terhadap kasus ini harus merefleksikan tingkat keseriusan yang setara dengan klaim nilai tersebut. Namun faktanya, pihak kampus selalu konsisten mengambil jalan “tengah” ketika berhadapan dengan kasus seperti ini. Padahal dalam konteks pelecehan seksual, netralitas merupakan omong kosong yang berbahaya. Tidak ada posisi “tengah-tengah” ketika berhadapan dengan kasus kekerasan berbasis gender. Setiap detik keterlambatan dalam mengambil sikap tegas sesungguhnya merupakan dukungan implisit terhadap kultur yang menormalisasi pelecehan terjadi.

Ketidaktegasan dalam merespons pelecehan seksual mengindikasikan bahwa institusi tidak benar-benar menganggap serius nilai-nilai yang diklaim dijunjungnya. Ini bukan sekedar inkonsistensi, ini adalah kemunafikan struktural yang akan terekam dalam sejarah UMSI. Selain itu, ketidaktegasan dalam menyikapi kasus pelecehan seksual juga sangat berpengaruh terhadap keselamatan para mahasiswa yang mungkin saja akan menjadi korban selanjutnya karena ketidaktegasan menciptakan pemikiran bahwa pelecehan dapat ditoleransi, terbukti dengan hadirnya kasus pelecehan seksual yang bahkan mungkin telah menjadi kasus langganan di Universitas Muhammadiyah Sinjai karena kemunculannya di tiap tahun.

Segala keputusan pimpinan kampus untuk “melunak” atau mencari “jalan tengah” dalam kasus ini sesungguhnya adalah keputusan untuk mengorbankan keselamatan para mahasiswa. Jika pimpinan kampus terus memilih jalan kompromis terhadap kasus seperti ini, artinya pimpinan kampus telah memilih untuk terlibat dalam struktur yang memungkinkan kasus pelecehan berikutnya.

Rektor sebagai pimpinan kampus berada di persimpangan sejarah institusi Universitas Muhammadiyah Sinjai. Keputusan yang anda ambil akan menentukan arah moral institusi ini. Tidak ada jalan tengah, sikap tegas adalah satu-satunya jalan yang bisa dipertanggungjawabkan. Keterlambatan dalam mengambil posisi yang jelas adalah pengkhianatan terhadap mandat kepemimpinan. Melalui tulisan ini, kami menggugat dan kami meminta CALL TO ACTION yang tidak dapat ditolak. Berikan efek jera kepada pelaku kekerasan seksual. Teguran saja tidak bisa menjadi solusi, berikan sanksi yang lebih memberikan kepastian bahwa kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi, PEMECATAN misalnya.

Sekarang adalah waktu untuk bertindak, ketidakadilan tidak hanya merugikan korban hari ini, tetapi menciptakan sistem yang akan memproduksi korban-korban baru di masa depan. Kami tidak akan memaafkan pemimpin yang memiliki kesempatan untuk menghentikan siklus kekerasan seksual ini tetapi memlih untuk diam.

#UMSIBebasPelecehan#TolakPelecehan#StopNormalisasiPelecehan


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak